Ketika mengetahui ada sahabatnya mengerjakan ibadah yang belum pernah beliau ajarkan, Rasulullah Saw tidak mengatakan bahwa sahabat tersebut telah ‘mengerjakan hal yang sia-sia/ Bid’ah/ Sesat’.

  • Jika inovasi ibadah sahabat itu sesuai dengan syariat Islam, beliau memuji kemudian melegalisasi dengan sabdanya.
  • Jika beliau kurang berkenan maka beliau mendiamkan tetapi tidak melarang.
  • Namun apabila tidak sesuai dengan syariat Islam maka beliau meluruskan.

Sikap Rasulullah SAW ini justru memberi motifasi kepada para sahabat untuk dan selalu mencari Ridho Allah Swt. Sikap Nabi SAW yang mengakomodir kreasi ibadah sahabat adalah termasuk sunnah yang harus diikuti oleh umatnya.

Untuk memacu umatnya melakukan kebaikan, Rasulullah Saw memberikan batasan dalam bentuk Hadits yang menjelaskan adanya ‘Bid’ah hasanah’ dan ‘Bid’ah sayyi’ah’ (dhalalah/ sesat) :

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”.
(Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

Beberapa contoh Bid’ah Sahabat

  1. Bilal bin Robah

Setiap selesai berwudhu, atas inisiatifnya sendiri (tidak ada petunjuk khusus dari Rasulullah SAW), Bilal selalu melaksanakan sholat sunah dua roka’at.
Mengetahui hal itu Rasulullah SAW justru memuji Bilal, “Engkau mendahuluiku ke surga wahai Bilal…..”
(diriwayatkan oleh Atturmudzi di dalam sunan, al-Hakim dalam al-Mustadrok, al-Bayhaqi dalam Syu’abul iman)

  1. Khubaib bin Adi al-Anshori

Dalam sebuah kisah dramatik, Khubaib bin Adi al-Anshori melakukan ‘sholat sunah dua rokaat’ sebelum dibunuh oleh orang kafir Qurays. Khubaib bin Adi ingin akhir hayatnya ditutup dengan sholat sebagai ibadah yang paling utama dan mulia.
Setelah Nabi SAW mengetahui apa yang dilakukan oleh Khubaib, beliau mengapresiasi dan mengatakan Khubaib telah mengawali ibadah yang baik. (Al-mu’jamul kabir atthabrani, dan riwayat al-Bukhori dan Ahmad)

  1. Bacaan QS. Al Ikhlas

  • Seorang imam di masjid Quba’ dari sahabat anshor, setiap kali selesai membaca surat al-fatihah beliau selalu membaca surat Al-Ikhlas, baru kemudian membaca surat yang lain.
    Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah SAW, beliau bertanya, “Apa yang mendorongmu membaca surat Al-Ikhlas itu setiap raka’at?”
    Sahabat itu menjawab, “Sungguh aku mencintai surat itu.”
    Lalu Nabi SAW berkata, “Apa yang kau cintai akan membawamu ke surga”
    (Fathul Bari al-Hafidh ibnu Hajar dalam bab al-jam’u baina suratain fir rok’ati).
  • Qotadah bin Nu’man Ra, setiap malam senantiasa mengulang-ulang surat al-Ikhlas di dalam sholat hingga masuk waktu subuh. Begitu Rasulullah SAW mengetahui, beliau berkata “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya, surat Al-Ikhlash itu sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.”

  1. Mu’azd bin Jabar Ra.

Sebelumnya, ketika para sahabat ketinggalan sholat berjama’ah, mereka bertanya tertinggal berapa raka’at sholat bersama Nabi? Kemudian mereka menyusul sampai raka’atnya sesuai. Akibatnya sholat jama’ah tidak beraturan, ada yang masih berdiri, ruku’, ada yang sujud, dll.
Namun saat Mu’adz bin Jabal terlambat datang, ia langsung mengikuti gerakan Nabi. Setelah Nabi Saw menyelesaikan soalnya, Muadz berdiri untuk menambah raka’at yang tertinggal.

Saat Rasulullah SAW mengetahui tindakan Mu’adz bin Jabal tersebut, beliau bersabda, “Mu’adz telah membuat sunnah bagi kalian, maka ikutilah dia.” (HR. Tabranj dari Mu’adz Ra).

  1. Redaksi Adzan

Kumandang adzan yang kita dengar saat ini, pertama kali redaksi adzan tersebut berasal dari mimpi sahabat Umar bin Khattab Ra yang disampaikan kepada Nabi Saw.
Kemudian Bilal menambahkan “Ash-sholatu khairum minan na’um” pada saat adzan shubuh.

Masih banyak contoh peribadatan yang diinovasi oleh sahabat, namun beliau tidak melarang sepanjang sesuai syariat islam. Bilamana ibadah tersebut menyimpang dari kaidah islam, maka beliau melarangnya.

Comment here