kamis malam.. 12/03/09
pulang dari m-stars kemang, naik ac 05 bus patas warna biru dari blok m arah bekasi.. kududuk sendiri..(halah) kursi yang kupilih pojok kanan paling belakang. badan kaku2 tapi kantuk ta juga diujung tanduk seketika duduk. bus malam itu cukup sepi dari biasanya. ubah2 pose untuk menikmati 1.5 jam perjalanan melewati senayan dan tol dalam kota. pengamen berdendang ditengah bus dengan lagu2 oldiest yang untung kusuka..
20″ berjalan, hp bergetar.. sms dari sahabat sedari sma yang juga di jakarta, cewe ini ajakin jalan ke sea world sabtu pagi. naah cerita dimulai disini. Di bis ini.
flash back :
dulu sahabat ku ini, cewe. cukup ‘dekat’ dengan sahabatku juga, Ardi. hmmm.. seketika itu juga kembali kenangan muncul di otak.
ardi, cowo yang emakku bilang ganteng ini (padahal menang putih doang sama aku, hehe | jealouse) meninggal taun 2001 kemarin waktu umur 19 taun setelah sakit kanker paru2. ardi dekat dengan aku layaknya sodara. gambaran kegiatan kami bersama sewaktu sma, senyum tawa dan canda konyolnya hadir kembali di sudut bus patas blok m – bekasi malam itu.
Bagaimana kabar anak itu sekarang? semoga bahagia dalam takdir yang telah dituliskan dalam lauhul mahfudz. Doa ku seketika juga terucap, semoga Allah memberikan kebahagiaan di alam kuburnya.
Sekali lagi aku Berkenalan dengan kematian
pikirku seperti biji cabai dalam uleg-an. mengingat kematian yang dapat hadir kapan saja, kepada siapa saja.
flash back :
Pagi – pagi 05.17 hp berkali kali hp mendapat panggilan. Terbangun seketika dengan suara isak tangis “Fa! ardi meninggal!”. Berita yang memang pernah ada dalam bayangan namun ta terpikir secepat ini. mengingat kondisinya yang memang cukup berat menghadapi kemoterapi dan laser di seputar leher dan dada. terlihat dilehernya tato tak beraturan yang mungkin membuat badannya melemah.
sekali lagi uleg-an itu mencacah otakku.
semua yang kukejar, pekerjaan, kebanggaan, kesombongan seakan ta ada artinya jika lupa dengan satu akhir cerita kehidupan yaitu kematian.
flash back :
Ardi, pertama memeriksakan diri di rumah sakit aku menemaninya. hanya kami berdua. satu bulan sebelum Ramadhan tiba di tahun 2003. Dengan senyum nyengir yang menenangkan dia berkata “kata dokter sebaiknya menginap, untuk diperiksa lebih lanjut”. Aku pun menemaninya memesan kamar inap di rumah sakit di jogja. sejak saat itu kondisi fisik langsung turun dengan drastis.. mungkin karena pengaruh obat.
pikirku saat itu, kenapa harus berobat jika kondisinya malah menurun dengan cepat.
Waktu terus berjalan dalam pengobatannya. obat yang bereaksi dengan keras merontokkan rambutnya pelan2. sakit hati ini melihat kondisi sodaraku seperti itu.
uleg-an terus dibumbui dengan berbagai macam rempah.
Berusahalah seakan hidup mu abadi dan beribadah lah seakan hidupmu berakhir esok hari.
flash back :
Ardi menampakkan sikap tersebut. saat istirahat kemo (dalam istilahku) untuk beberapa hari.
setiap hari minggu ardi berjalan dari rumahnya yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumahku. olahraga katanya. 1 jam jeda waktu hp ku berdering pertamakali untuk memberi kabar dia akan berangkat dan dering ke 2 setelah sampai didepan rumah. Aku hadiahkan air putih (mintanya cuman air putih sih) dan nasi goreng buatanku. (dulu bisamasaknya baru nasi goreng, sekarang tetep!)
di hari biasa ardi kembali sekolah. sikapnya seakan tak ada penyakit yang menghinggapi tubuhnya. senyum khas, menyapa semua orang saat berbapapasan. maklum sma kami terkenal dengan persaudaraannya, dari kelas A-F hampir kenal semua, paling ga wajahnya saja. sma 6 gt loh.(sma 6 jogja – yang terkenal suka tawur daripada prestasinya. untung sekarang sudah berubah)
Suatu siang dirumah salah satu teman kami saat kumpul2, setelah berminggu – minggu aku menemani dalam sakit. ardi mulai bosan dengan rambutnya yang terus rontok satu persatu. dia memintaku menjabuti rambutnya. yup, menjabut rambutnya. menarik rambutnya dari kepala hanya dengan tangan.
suasana yang ramai membuat hal tersebut tampak menyenangkan. aku bentuk rambut dikepalanya seperti potongan huruf A yang mewakili Ardi, kemudian bentuk segitiga dan akhirnya gundul. Gundul hanya dengan menarik rambutnya saja di sebuah kamar tanpa gunting bahkan sabit, tapi dengan tangan. sakit hatiku melakukan hal itu.
Kondisi fisiknya terus melemah. 3 rumah sakit ternama termasuk Jakarta bolak – balik ia kunjungi untuk berusaha mencari penyembuh hingga rumah sakit Sardjito di Jogja adalah tempatnya terakhir berobat.
pagi hari di hari kematiannya
tubuh itu terbaring ta bergerak, dibalut kafan dan diselimuti kain jarik dengan wajah masih dapat dilihat, diatas sebuah meja di sudut rumah biasa tempat kami berkumpul. aku melihatnya diam. mensholati jenazahnya.
Wajah nya pucat dan sedikit menoleh ke kanan.  tampak kedamaian menyelimutinya saat ini dan senyum nyengir khas itu hanya dapat dikenang.
kesedihan yang masih dapat ditahan untuk tidak menambah kesedihan keluarganya yang ku kenal baik dan teman2 lain. siang hari, kami mengantarkannya ke tempat peristirahatan yang terakhir dengan berjalan kaki tidak jauh dari rumahnya di kota jogja.
saudaraku sahabatku, engkau sudah mendahului kami.
aku ingin tau bagaimana kabarmu.
ceritakan pada kami jika engkau bisa bercerita tentang kehidupanmu yang baru.
agar kami tidak menyesal dikemudian hari.
bagaimana kami bersikap dalam hidup ini.
Gunakan kesempatan ini sebagai orang yang bermanfaat bagi makhluk lainnya.Terimakasih ardi, pengorbanan yang cukup besar untuk selalu mengingatkan kami.

  1. tape…
    hiks2…
    iya, mmg qt g pernah tau kapan dan di belahan bumi mana qt akan mati
    thx juga yha, dh bantu ingetin…
    dari hadits Nabi SAW.
    i’malliddunyaka ka annaka tangisyu abadaa, wa’mal lil akhirotika ka annaka tamuutu ghodaa…
    “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”
    CMIIW… 🙂
    semoga temenmu yg dh sodaramu itu slalu diampuni segala dosanya, selalu dilindungi Allah SWT, dan amalnya dibalasi dgn yg lebih baik di sana.. amien 🙂

  2. cerita yang menyentuh….
    turut berduka…
    semoga dapat mengingatkan kepada kita akan kematian.

    • fadlilsangaji

      pernah denger ini “manusia paling pandai adalah yang ingat akan kematian dan mengusahakan ibadahnya menjadi lebih baik”. Semoga dapat mengingatkan kita semua dan menjadi manusia yang lebih pandai…

  3. Aku jadi tahu kenapa tadi pagi aku merasa akan `feeling so blue`sepanjang hari. jawabannya ada di lembar ini ternyata. Seperti dipaksa menghadapi sesuatu yang selama ini kuhindari sekuat tenaga.

    • akhirnya salah satu lakonnya dateng… makasi da mampir.
      Kamu bilang : “Seperti dipaksa menghadapi sesuatu yang selama ini kuhindari sekuat tenaga.”
      Sebenarnya kita sangat tahu bagaimana seharusnya bersikap untuk menghadapinya. Sekelumit dari rotasi kebulatan hidup. Jika dipikir secara sederhana maka akan menghadapi pemahaman yang bulat. Pemahaman & keyakinan tentang hukum Allah akan membantu kita mencerna alur cerita.
      Tidak mudah memang karena bagian dari diri kita hidup dalam fisik dunia (tubuh / badan ini), namun motor / penggeraknya adalah spiritual yang terus mencari kebenaran hakiki.
      Ikhlaskan dan bangun sikap. waktu masih berkenan menyambut mu.

  4. Wah menyentuh sekali.
    Aku terharu membacanya, hiks…hiks…
    Seperti ikut merasakan kehilangan seorang sahabat,
    Semoga sahabatmu mendapatkan tempat yang lapang di sisi Allah SWT

    • sama.. aku juga terharu waktu baca ini.. hehehe..
      untuk doanya amin dan terimakasih Poet.
      Banyak ingatan dulu kita main bersama 7 sahabat lainnya yang takkan terlupakan.. hmm.. indah sekali.
      Semoga kita semua selalu dalam petunjuk Tuhan semesta alam. amiin.

Comment here