مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada perintahnya, maka ia tertolak.“

Sebagian besar ahli hadist menafsirkan : ”Barangsiapa yang melakukan perkara baru dalam urusan kami yaitu urusan syari’at kami yang bukan termasuk darinya, tidak sesuai dengan al-Quran dan hadits, maka perkara baru itu ditolak.“

Jadi pengertian, “Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah, kullu bid’ah dholalah (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi & Hakim).
Maksud hadist tersebut sangat jelas, adalah bid’ah yang menyimpang dari kaidah Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw.

Ada hadist yang sejenis, “Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah Ra berkata; Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang membuat perkara baru dalam ‘urusan kami’ ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak“. Diriwayatkan pula oleh ‘Abdullah bin Ja’far Al Makhramiy dan ‘Abdul Wahid bin Abu ‘Aun dari Sa’ad bin Ibrahim (HR Bukhari 2499)
.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah Saw. bersabda, “sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (jika ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (jika dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Ad-Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Pendapat Imam Syafi’i, (155H-204H) seorang ulama pakar hadist tentang Bid`ah sbb :

ما أُحدِثَ وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة، وما أُحْدِثَ من الخير ولم يخالف شيئاَ من ذلك فهو البدعة المحمودة

“Perkara baru yang menyalahi al-Quran, sunnah, ijma’ atau atsar maka itu adalah bid’ah dholalah/ sesat. Dan perkara baru yang baik yang tidak menyalahi dari itu semua adalah bid’ah mahmudah/ baik.“

Firman Allah Swt :

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ

“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)

Jika ada yang menentang dan berdalih (pendapat Salafi-wahabi) : Bahwa Rasul Saw telah memutlakkan bahwa semua bid’ah adalah sesat, dengan berhujjah pada dalil :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود

Maka jawabannya :
Hadits tsb adalah ‘Aam Makhsus (lafadznya umum namun dibatasi) dgn bukti banyak dalil yang menjelaskannya seperti hadits 2 sahabat di atas. Maksud hadits tsb adalah setiap perkara baru yang bertentangan dgn al-quran dan hadits.

BID’AH HASANAH (BAIK) DAN BID’AH SAYYI’AH/ DHALALAH/ (SESAT)

Salah satu dalil Alquran adanya bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah (QS Al Zalzalah (99) : 7-8) :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

  1. Faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairai(n) yarah(u)
    Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

  1. Waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarrai(n) yarah(u)
    Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Jika bid’ah diartikan secara Tekstual dan cuma terjemahan hadits :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Dengan : “Barangsiapa yang melakukan hal baru maka itu tertolak“ atau
“Barangsiapa yang melakukan hal baru tanpa ada perintahnya maka ia
tertolak“.

Jadi segala sesuatu yang baru, baik itu terlarang atapun tidak terlarang maka itu adalah BID`AH. Bisa bid’ah hasanah atau bid’ah sayyi’ah. Segala bid’ah tercela itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik. Ini adalah perbuatan bid’ah dholalah/ sesat, karena tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al-Quran, hadits maupun atsarnya.

ANCAMAN DUSTA TERHADAP AYAT

Ingatnya ancaman Allah Swt, jika kita MERUBAH MAKNA HADITS NABI SAW. Maka itu bagian dari ‘orang yang telah berdusta atas nama Rasulullah (berdusta atas nama Rasulullah karena memahaminya serampangan) maka bukan golongan Rasulullah.

  • Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin. Yang perlu digaris bawahi adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin. Rasul Saw dengan jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin.

PENGUMPULAN HADITS

Perlu diketahui pula bahwa, kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll tidak pernah ada perintah dari Rasul saw untuk membukukannya. Khulafa’urrasyidin juga tidak memerintahkan menulisnya.

Namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Nahwu, sharaf, Musthalahulhadits, dan lain-lain, sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah, namun dikategorikan Bid’ah Hasanah.

  • Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas.
  • Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

Begitu juga dengan perbaikan tempat ritual ibadah haji di Arab Saudi. Mulai dari perbaikan Masjidil Haram sebagai tempat Thawaf dan Sya’i, tempat pelemparan jamarat di Mina, penginapan jamaah haji dan suasana di Arafah. Hampir semuanya disesuaikan dengan tehnologi kekinian.

Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam?
Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam.

Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

Jika Abubakar shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Zeyd bin haritsah ra, dan para sahabat, hatinya dijernihkan oleh Allah swt. Semoga kita dijernihkan juga oleh Allah Swt, sebagaimana diingatkan oleh Rasul saw bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITSIN MENGENAI BID’AH

  1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii), membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela).
  2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah, : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
  3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi) : “Penjelasan & mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

  • Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

  1. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah. Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka? Apa dasar pemahaman mereka, padahal ia tak mencapai. derajat hafidh atau muhaddits?

Terlebih dengan adanya Sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik orang adalah mereka yang semasa denganku, kemudian generasi selanjutnya, dan generasi selanjutnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika berdasarķan hadits tersebut maka Imam Syafi’i (155H-204H) bersama imam mahdzab yang lain, maka jauh lebih kredibel dibandingkan ulama salafi-wahabi manapun yang senantiasa menyalahkan peribadatan Imam mahdzab tsb.

Begitulah ucapan orang yg tak punya sanad ilmu yang bersambung pada Rasulullah Saw. Mereka hanya menukil hadits dan mentakwil semaunya tanpa memperdulikan fatwa ulama yang terpercaya.

Comment here