Jam 12 Teett… tanggal 17 Agustus 2009

Entah sudah menjadi kutukan informatika atau apalah istilahnya saya ta pernah lepas dari ‘Anya’ laptop item merk anyote ini.
Baru saja saya masuk rumah, setelah seharian tanggal 16 Agustus 2009 di kampung saya – Rejodani mengadakan guyup untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 tahun dan malam ini adalah puncak kegiatannya.  Mungkin bagi Anda atau sebagian orang, peringatan hari kemerdekaan RI adalah hal yang sudah biasa. Tapi tidak untuk warga masyarakat kampung Rejodani. Dari berbagai penjuru desa, mulai dari RT 01 sampai RT 04 Bapak Ibu, anak remaja pemuda etc, semua hadir meramaikan puncak acara pada malam hari ini

Apa yang menyebabkan mereka bangga dan penulis juga memberikan judul Bangganya Aku menjadi orang Rejodani.. berikut kisah singkatnya. Semarak luar biasa yang dibuat oleh remaja panitia untuk memperingati HUT RI ke 64 kali ini. Kebetulan saya baru mudik Sabtu sore jadinya cuman kebagian kegiatan di hari Minggu saja.

Sabtu malam, dimulai dengan pemuda dan bapak2 berkumpul di halaman Sogan Village. Ada yang pasang tenda, menghias panggung & backround, set sound sistem etc, niup balon, pasang bendera2 kecil yang direnteng ditarik ke sana – kemari untuk meramaikan atap langit halaman tempat pusat kegiatan keesokan harinya. Sampai subuh pada.

Minggu pagi. Pagi hari pukul 06.00 alunan musik perjuangan mulai terdengar mengundang warga untuk mengikuti jalan santai dengan rute mengelilingi kampung Rejodani dan beberapa kampung tetangga. Pukul 08.00, bazar pasar murah dibuka. Pikir saya, kompak nian Ibu – ibu dan Bapak – bapak disini ada yang jual makanan, minuman, jus, pakaian, dan lain sebagainya mengiri lomba – lomba yang juga bertempat di halaman tersebut.

Berbagai lomba Bapak, Ibu dan anak digelar. Lompat karung, makan krupuk, cemongan (buah pepaya yang di bakar jadi item kemudian di kasih koin dan diambil dengan mulut) semua diselenggarakan untuk berbagai kalangan. Dan asiknya lagi tidak ada rasa gengsi – malu antar warga, semua antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ibu – ibu pada lompat karung, anak2 makan krupuk dan lain sebagainya. Alhamdulillah sukses nian panitia ini.

Menjelang siang, barang – barang bazar sudah banyak berkurang. Lomba masih tetap berlangsung, bazar tetap ramai, makanan yang dijajakan tinggal sedikit. Acara diakhiri saat Dhuhur tiba.

Nah puncak acara, malam hari. Atmosphere tempat sudah diset (ya jelas orang di halaman dalam soganvillage) Persiapan sejak sore pasang sound system dan perlengkapan stage lainnya. Stage kami kali ini adalah teras rumah Joglo Limasan yang disebut dengan kuncung. Unik dengan setting bangunan abad 19 tepatnya tahun 1858.

Warga mulai berdatangan, ramai sekali. Acara dimulai dengan anak – anak menyanyikan lagu – lagu perjuangan, lagu taman quran, plus mix ta gendongnya alm. Mbah Surip. Luar biasa, kostum2 ala bocah tempoe doloe kala,putra putri semangat pada nyanyi, total. Hebat sekali anak – anak ini.

Ta mau ketinggalan giliran Ibu – ibu paduan suara, ada bude sebagai dirigen, ibu saya, simbah saya, loo ko keluarga semua ya? kekeke.. tambah deh teman ibu saya, tetangga ibu saya, naah tetangganya ibu saya ini yang banyak. (heuh.. istilah tetangga ibu saya tu loh..)

Ibu – ibu ini sudah berlatih sejak 3 minggu yang lalu. Tiap malam. (semangat amat ya!). Alhasil paduan suara yang sangat indah dari Ibu – ibu saat menyanyikan lagu – lagu perjuangan, begitu merinding ketika lagu mengheningkan cipta. Hadiah applaus dari penonton yang terkagum – kagum setelah selesai menyanyikan lagu mars Rejodani (hebat bener kan kampung saya punya lagu mars sendiri..)

Berikutnya pentas personal. Siapa saja yang mau tampil deh, monggo. Tapi bukan spontanitas ya, karena sudah dipersiapkan runutannya. Ada anaknya mas Iwan (masih sodara juga) yang main drum, apa hebatnya main drum? Si anak baru berumur 5 taon, lagu yang diiringi drumnya punya RedHot, hehe.. Bapak Ibu kampoeng disuguhi lagunya RedHot pada ikut goyang kepalanya tapi lebih banyakan yang mlongo. hehe.. berikutnya band lagu dari pemuda, lagunya cukup slow.. mengingat audience juga orang – orang uzur yang sukanya qasidahan mungkin ya, keroncong, ato malah familier dengan dangdhut. Acara.. dan seterusnya sampai ini puncak acaranya…

Kesan pribadi saya, kreatif bener para panitia pemuda ini! Apaan si? Sederhana saja sebenarnya, film cerita riwayat perjuangan warga Rejodani waktu jaman penjajahan Belanda dan Jepang. wew.

Singkat cerita kampung Rejodani paling tersohor waktu jaman penjajahan. Banyak ceritanya kenapa saya menuliskan Rejodani paling tersohor. Diantaranya, pejuangnya mencapai satu batalion yang disebut dengan TP (Tentara Pelajar) Letnan dan pemimpin batalion dari kampung ini sendiri, termasuk mbahakung saya sebagai salah satu pemimpinnya, entah apa gelarnya :D.

Para wanita dan ibu – ibu memberikan dukungan ketika TP datang. Tentara TP bukan hanya dari kampung saya, karena mereka seperti gerilya makanya banyak yang dari mana – mana. Termasuk juga pernah Pak Harto, mantan presiden RI berkunjung di kampung saya. “Waktu itu Pa Harto tidur di tempat mbah Nar”, kenang embahuti.

Para ibu dan wanita terbangun malam hari untuk masak (ini sumbernya dari embahuti juga) bahan sayur waktu itu tinggal ambil dari kebun kata beliau. Ada bayem, jipang, daun melinjo, tempe dikasih bakul pasar secara ikhlas, ada yang ngasih 10, 5, dan banyak lagi akhirnya terkumpul, semua bahan yang bisa ditemui dimasak untuk para tentara.
Inilah contoh perjuangan melawan penjajahan dulu yang dilakukan secara kompak di kampung Rejodani.

Masih dalam film tersebut, embah uti saya bercerita para tentara TP menghadang tentara Belanda di seputaran Ngetiran. Informasi bahwa tentara Belanda akan melewati seputaran Rejodani terdengar dari para pedagang pasar. Pertempuran berlangsung sengit, delapan TP meninggal dunia, namun diperkirakan tentara Belanda lebih banyak lagi yang tewas, termasuk komandannya di persawahan sebelah barat Wonorejo. Waktu itu warga sudah banyak yang mengungsi, sehingga kampung cukup sepi. Cerita yang sangat mengharukan…

Entah bagaimana jelasnya situasi waktu itu namanya juga simbah – simbah yang bercerita embahuti melanjutkan ceritanya : “Pakdhe Tayip (masih simbah saya juga) meminta tolong saya untuk mengangkat jenazah para pejuang yang bersimbah darah”. “Godres Getih” istilah yang digunakan untuk mengatakan bersimbah darah.
Embah : “Pakdhe Tayib mengangkat badan trus saya menarik kakinya..” Pecahlah tangisan embahuti mengingat kisah tersebut. Haru dan sedih sekali mengingat pejuang yang tewas adalah para tentara remaja dari kampung Rejodani sendiri.

Cerita film berlanjut tentang seputar penghiatan bangsa atau mata – mata di bagian dapur. “Ketika diketahui sebagai mata – mata ya trus kami bunuh saja orang itu”, kenang mbah Jamat sebagai seorang saksi. “Mayatnya kami buang di sungai, karena waktu itu sedang banjir. Namun ada pemikiran lain, pasti nanti mayat itu tersangkut. Kemudian mayat diambil lagi dan akhirnya dikuburkan di pinggiran sungai.” Sungai yang dimaksud adalah sungai Boyong yang melintasi Rejodani. Boyong adalah anak Sungai Code yang membelah kota Yogyakarta.

Sekelumit cerita perjuangan yang sangat mengharukan dan luarbiasa. Pesan moral yang sangat berharga tertera dalam film tersebut. “Masa itu adalah masa yang sulit pangan, namun di Rejodani tidak ada yang kelaparan. Semuanya bergotongroyong dari hasil panen, yang kaya atau punya selalu berbagi dengan semua warga”. Indah sekali kalimat tersebut.

Salut mas Fauzan Ahmad Hardono dan kawan – kawan. Anda telah berhasil mengingatkan kami untuk selalu menghargai jasa para pahlawan khususnya pahlawan dari dusun Rejodani, alias kampung kita sendiri ini. Cerita ditutup dengan doa untuk mendoakan para pahlawan dan kampung Rejodani. EOS.

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH
    GILAAAAAAAAAAAAAAA
    SALUUUUUUUUUUT
    YA HEBAT
    YA NASIONALIS BGT
    YA KEREN
    YA KREATIF
    DUH BERASAA BGT INDONESIA
    INI NAMANYA INDONESIA YG GAK TERCEMAR KAYA DI JAKARTA
    100 THUMBS UP!
    HANGH
    KEREN

  2. wah… kamu g ajak2 sie, tape…
    trus kagak ade poto2nye..
    tapi smoga qt semua bs meneruskan cita2 para pendahulu kita, membangun negeri tumpah darah tercinta ini..
    amien.. 🙂
    salut buat warga rejodani

    • 4 Ninkye : La bukannya kau di Jakarta Ning? kalopun ku ajak, kukenalkan apakau kepada para tetanggaku? kekekeke…… calon penduduk baru? wuakakakakaa…..
      4 Dian : Ayolah kita budayakan dari tempat kerja kita dulu untuk saling membantu dengan ikhlas… bentoel tidak?

  3. Begitupun denganku Sebangga Aku Jadi orang Rejodani…!!!
    Oh ya ji… nek tulisanmu ttg Rejodani wis lumayan okeh, di gawe buku wae piye? mngko ben nggo arsip adik2 kita…
    pokoke terus berkarya dan menulis ya…:) ojo lali mampir neng webku neng : pemudarejodani.webs.com
    nek arep comment macem2 yo oleh,hehe…

    • amin2.. semoga diberi kesempatan bisa banyak nulis2nya tentang Rejodani, kampung kita tercinta itu…
      Dibuat buku apalagi… iming – iming yang setimpal dengan usahanya nanti…
      InsyaAllah deh ne mudik sesuk ya… 😀
      pemudarejodani.webs.com endi sing kudu dicomment kie.. sing akeh poto2ne. Ayo2 pada nulis ya cah!! Besuk acara otbon diliput ye.. digawe beritane sing apik.. ne ora malah ta isi ngko blog e pemudarejodani.webs.com (nek oleh tapi :p ) kkeekeke…

  4. ngikut nimbrung sejenak….
    bukannya pengen apa-apa, hanya sekedar mampir, dan bukannya jadi aktivis parpol.
    JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah
    sejarah itu catatan yang tidak akan pernah habis untuk dipelajari dan dicermati. tapi nampaknya yang namanya sejarah sekarang cuma tinggal bahan bacaan saja, yahh… masih mending jadi bahan bacaan, lha payahna kalau jadi bantal tidur…!!!!
    wahai anak muda jaman sekarang!!! pelajarilah darimana kamu mendapatkan apa-apa yang sekarang kamu dapatkan!! tapi jangan tinggalkan semangatmu untuk tetap berkarya dan lebih baik dari hari sebelumnya.
    kayaknya emang perlu ada catatan sejarah tentang rejodani sendiri deh!! piye yow pendapat sedulur2 kabeh…, opo dibikinkan catatan trah seluruh rejodani wae, bwen nanti kalau nyari sedulur2na langsung ketemu gitu. Lha tapi kalau gitu, apa gunanya ada hape ya?? hehehehehe… ya cuma sekedar ide wae….

    • JAS HIJAU!! ga bakal lupa kampung Rejodani lah yau…
      kekekek :p
      Menulis tentang kampung rejodani…?? ayo.. dimulai dari masjid sulthoni piye?? ada yang punya info foto ato ceritanya jaman daholoe kala?? kontak2an ma ane ye?? ym : fad_liel, skype : fadlil.sangaji.

  5. saya diem2 jg menulis kampung itu..sejak bertahun2 lalu sebelum kemudian memilih menjadi bagiannya..waktu itu tak pikir warganya tdk sadar potensinya apalagi menulisnya…tp sekarang kesadaran dan semangat baru mereka muncul dimana-mana…semoga baik, bermanfaat, dan dalam ridoNya. Amiin.

  6. tapi tadil, sekarang simbok jadi cerita itu terus bolan baleni.sambil nangis2. daku hrs mendengarkannya .

  7. mas di rejodani ada pabrik ga mas?

    • ko tau2 nyambung di pabrik mas Arie? ada apakah gerangan?
      Sekitar 3 – 5 kilo ke atas ada pabrik tekstil ketoke mas..

  8. Ass,wr,wb.
    Wah saya bangga betul dengan adik-adik semua yang telah meneruskan perjuangan pendahulu yang sekarang tidak domisili di Rejodani. Sungguh saya bangga menjadi trah Rejodani, teruskan berkarya adik-adiku, salam.
    Wassalam

    • fadlilsangaji

      waalaikumsalam Pa Hermin.. alhamdulillah.. terimakasih doanya.. semoga pemuda Rejodani selalu menjadi pelopor majunya Indonesia.. dan patut dibanggakan selalu.. amiin.

  9. Ayo maju terus pantang mundur untuk berkarya, kami bangga dengan kalian semua, kami bangga menjadi almamater Rejodani, bravo Rejodani…….

  10. bravo pemuda kita
    bright your future….

Leave a Reply to Hermin Cancel reply