Wajahnya cerah dengan senyum yang mengaburkan guratan garis usianya. Rambut memutih keluar dari pecinya. Perawakannya lebih kecil dari saya karena bungkuk. Beliau mengenakan baju koko yang bersih dan rapi. Melihat dari gerakan dan salamnya, saya merasakan semangat pantang menyerah dari dalam dirinya. Duduk sebentar disamping saya untuk bermunajat kepada Alloh, terlarut dalam doa kami masing masing. Sekilas dia mendahului saya untuk memulai aktifitas pagi ini.
Ketika saya keluar dari tempat sujud, kembali saya melihat Bapak itu sudah berganti baju dan sedang mengenakan sepatu. Terlihat disampingnya sebuntalan botol botol bekas dan tumpukan kardus.
“Bapak yang punya barang – barang ini?”
“Iya nak..”
Subhanalloh, ternyata beliau adalah pemulung. Usianya sudah sangat uzur. Namun semangat yang dimilikinya luar biasa. Tidak ada pilihan lain selain bekerja untuk bisa makan dalam sehari. Apa yang saya lihat adalah keikhlasan luar biasa, tersirat dari  sikap dan munajatnya kepada Alloh. Keikhlasan untuk menjalani hidup sederhana namun penuh syukur dalam menghadapi setiap waktunya. Zuhud sesungguhnya yang saya lihat langsung ada didepan saya. Semoga Alloh selalu menjaga dan merahmati beliau.
Saya merogoh kantong, sepertinya ada beberapa rupiah cukup untuk makan saya hari ini.
“Bapak, ini sedekah dari saya, mohon diterima.”
“Terimakasih nak, alhamdulillah…”
Sekelumit doa syukur keluar dari mulutnya yang tidak terdengar oleh saya.
Alhamdulillah batin saya. Saya bisa merasakan kelegaan dan syukur, semoga sedekah saya ini bisa mengurangi dosa saya. Amin..
Selang beberapa waktu saya masih teringat dengan bapak itu, saya merasa sangat tercukupi dalam keseharian saya, merasakan kaya dengan rizki yang telah Alloh berikan, dan saya tidak perlu khawatir hari esok masih bisa makan atau tidak. Bagaimana dengan beliau? Semoga Alloh selalu mencukupkan kebutuhannya. Amin..
Syukur yang bagaimana lagi yang bisa saya haturkan ya Alloh dengan semua kenikmatan ini, syukur yang bagaimana lagi yang bisa saya haturkan jika dibandingkan dengan beliau pemulung uzur yang saya temui. Ucapan alhamdulillah serasa tidak ada artinya untuk membalas semua kebaikan Mu.
Semoga kita selalu teringat untuk bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikan Alloh kepada kita semua. Amin..

  1. amiiin…
    Ya, kadang kita selalu banyak mengeluh, bukannya banyak bersyukur. Mungkin karena terlalu melihat “ke atas”, jarang lihat “ke bawah”… Makin malu aja sama Allah.. ;_(

    • melihat ke atas untuk motivasi kedepan dan melihat kebawah untuk mensyukuri apa yang telah diberikan kepada kita.. insyaAlloh dan alhamdulillah jadinya..
      *hip hip horeeeee….!!
      “life – work, balance!”… <– kayake ga nyambung deh… *gapapa pengen nulis aja hahaha…*
      tengs mas Muxlimo… *nama betulan apa samaran si ya Muxlimo… ko serasa ada yang patah ngucapnya.. Mux..(*serasa suara klek-patah),,, trus naik oktaf Liii… dan dilegakan dengan turun oktaf Mooo
      *aneh banget kan??* hihihi…. peace man.. :p

  2. suka..suka..:)

Comment here