Ketika beliau wafat, bid’ah-bid’ah sahabat tidak ada lagi yang mengukuhkan. Namun Rasulullah Saw telah memberikan izin akan hal-hal baru sejauh tidak menyimpang dari syariat islam. Ini bukti bahwa Rasulullah Saw tidak membelenggu umatnya, karena beliau telah memprediksi bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun saja.

Karena Islam selalu sesuai dengan kemajuan zaman, meskipun diperlukan hal-hal baru tetapi tetap sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Hal-hal yg baru yang berupa kebaikan ini, termasuk bid’ah hasanah.

Jadi hadist Rasulullah Saw tersebut diatas masih relevan untuk situasi kapanpun.

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

  • “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka.
    Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”.
    (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

Sesuai dengan ayat : ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…… (hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian)

Maksudnya, semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul-Nya. Misalnya pencetakan Al-Quran, perayaan maulid Nabi Saw, tahlilan, khaul, sholat tarawih berjama’ah dll.

Maksudnya, semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul-Nya. Misalnya pencetakan Al-Quran, perayaan maulid Nabi Saw, tahlilan, khaul, sholat tarawih berjama’ah dll.

Bid’ah yang Sebenarnya

Sedangkan hal baru yang bertentangan dengan syariat islam dan sunnah Rasul Saw, tentunya beliau larang untuk dikerjakan. Misalnya menghalalkan yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya.

Maka, barangsiapa yang membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah/ sayyiah. Maksudnya, siapa saja yang melakukan hal baru yang tidak bersumber dari syari’at (bid’ah sayyiah/ sesat), maka dia tertolak.

Misalnya :

  • Menjasmanikan wujud Allah Swt (menyangka Allah Swt memiliki angota tubuh maupun berkeyakinan Allah Swt bersemayam di Arsyi)
  • Shalat dengan bahasa Indonesia
  • Mengingkari taqdir
  • Meyakini adanya Nabi baru setelah Rasulullah Saw wafat,
  • Mengkafirkan sesama muslim,
  • Memindahkan kiblat dari Ka’bah ke Monas,
  • Menambah/ mengurangi rakaat sholat wajib,
  • Menghalalkan yang haram atau sebaliknya, dll.

Yang Pertama Memulai Bid’ah adalah ‘Khulafa’ur Rashiddin’

  1. Di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, sahabat Umar bin Khattab Ra prihatin dengan wafatnya para sahabat yang hafal Alqur’an. Maka Umar bin Khattab mengusulkan untuk mengumpulkan dan menulis Alqur’an. Semula Khalifah keberatan, “Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah?”
    Dan Umar terus meyakinkan Khalifah sampai Allah menjernihkan dadanya dan menyetujui.
    Kemudian Abu Bakar Ra memerintahkan Zeyd bin Tsabit ra, seorang pemuda, cerdas, yang pernah mencatat wahyu untuk mengumpulkan dan tulislah Alqur’an.
    (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
  2. Di masa Kekhalifahannya, Umar bin Khattab ra memerintahkan tarawih berjamaah. Bahkan Umar berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits no.1906).
  3. Dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw/ dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra/ dimasa Umar bin khattab ra. Adzan dua kali baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra hingga sekarang ini.
    (Shahih Bulkhari hadits no.873).
  4. Sebelum dikumpulkan menjadi satu buku, alqur’an terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok dll. Kemudian pada era Usman bin Affan Ra penulisan Al Qur’an dimassalkan dengan nama ‘Mushaf Ustmani’. Seluruh proses penulisan Al Qur’an ini diketahui para sahabat yang lain dan terutama Ali bin Abu Thalib kw yang senantiasa menjadi rujukan penting para khalifah pendahulunya.

Diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”.
(Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

Disini Rasul saw memerintahkan kita mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin. Beliau memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Jika memang semua bid’ah terlarang, tentunya keempat Khulafa’urrasyidin tidak akan berani melakukan Bid’ah.

Comment here