Bismillahirrahmanirrahim, Kisah nyata :
Kurang lebih empat bulan yang lalu tiba tiba teman baik saya yang lama tidak berkomunikasi tiba tiba mesej saya lewat whatsapp. Klunthing,,, “Jie, saya minta maaf” // me: “Whaat? Aya naon tiba2 minta maaf” // tmn : “Iya saya minta maaf terhadap saya yang dulu2, sekarang sy nyantri di Daarut Tauhiid aa Gym.” // me : “Alhamdulillah,, btw emang kenapa dulu ko sampe minta maaf?” // tmn : “Dulu saya terlalu sombong terhadap ilmu, semenjak saya nyantri di Daarut Tahiid sekarang saya sadar ternyata dulu pemahaman ilmu agama saya belum seperti sekarang”.

baby-stairs
Seberapa tinggi ilmu yang kamu capai saat ini ?

Batin saya,, masyaAllah Alhamdulillaaaaah  ( saya benar – benar senang mendengar kabar diatas ), Allah berikan jalan dan kenikmatan keluasan ilmu kepada teman baik saya ini. Saya salut dengan teman saya ini, setelah ia mendapatkan kenikmatan atas ilmu tersebut ia berbagi kepada saya dan berbesar hati mengatakan bahwa dulu ia terlalu sombong terhadap pemahaman yang baru ia ketahui.
Flashback, setelah ayahnya meninggal pernah satu waktu teman saya ini posting di fb mengatakan doa doa kalian untuk ayah saya itu percumah, cuma doa saya aja yang bisa sampai.. (kurang lebih bgitu). Atas postingan tersebut saya kemudian memberikan komentar : “Padahal baru saja saya memohon doa dan memohon agar pahala bacaan Al Fatihah semoga disampaikan Allah kepada beliau”.
Seriously, tujuan saya nulis ini bukan ingin mengolok ataupun membahas jaman dulu.. tapi saya mengutarakan rasa syukur dapat mengambil hikmah dari teman saya ini. Teman saya sudah berbagi kebahagiaannya kepada saya atas ilmu yang ia ketahui sekarang daripada dahulu kala.
Sebagaimana orang yang sudah bertambah ilmunya maka lambat laun ia akan penuh rasa syukur, akan tumbuh rasa tawadhu’ merendah tidak sombong, bagi orang berilmu yang berhak sombong dan paling benar hanyalah Allah. Hatinya orang berilmu tenang dan penuh optimis kepada Allah, ia akan penuh rasa sayang terhadap setiap manusia sebagaimana ajaran baginda Rasulullah Muhammad saw. Tidak gegabah untuk menilai salah, tidak menilai dengan emosi dan nafsu sendiri namun akan sangat berhati hati. Bahkan jika tidak pada tingkat keilmuannya lebih memilih diam dan terus belajar dan mengambil hikmah. Ia akan mencontoh baginda sayidina Muhammad saw yang selalu bertanya kepada orang orang nyleneh pada jaman Beliau saw dengan mendengarkan alasan mengapa engkau berbuat seperti itu ?

~::~

Sebagaimana cerita para sahabat semasa Rasulullah saw hidup diantaranya Imam masjid seorang anak muda yang mengakhiri setiap rakaat dengan bacaan al ikhlas, sebagaimana cerita sahabat yang mendapatkan hadiah kambing karena berhasil menyembuhkan penyakit ketua suku, sebagaimana cerita sahabat berdoa secara keras disaat berdiri setelah rukuk, dan cerita cerita yang lain. Rasul tidak pernah mengajarkan hal hal yang dilakukan para sahabat tersebut, namun setelah Rasulullah saw bertanya apa alasan mereka semua berbuat itu, malah kemudian Rasul saw memberikan fatwa dan doa kebaikan atas perilaku para sahabat tersebut.
Jika antum belum pernah mendengar sama sekali cerita diatas maka antum belum mendapatkan nasehat hikmah yang indah terkait bagaimana baginda Rasulullah Muhammad saw memandang, bersikap dan berfatwa menyikapi aktifitas keagamaan para sahabat. Mari lebih sering lebih sering duduk di majelistaklim.com atau majelis ilmu lainnya.

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan Penting :: Guru kami mengajarkan satu hal penting saat menimba ilmu,, untuk mendapatkan keberkahan ilmu, jangan sekali kali merasa engkau sudah berilmu dan merasa sudah tahu. Jika sudah pernah mendengarkan satu kajian maka pura pura lah belum pernah mendengarkan kajian tersebut dan berharap ridha Allah semoga Allah tambahkan ilmu baru atas kajian tersebut.
Contoh :
Ayat dalam Quran tidak berubah dari awal diturunkan sampai akhir jaman, namun mengapa ilmu dalam al Quran adalah petunjuk kehidupan sampai kiamat ? sedangkan kehidupan dari jaman Rasul saw sampai saat ini dan kemudian hari pasti berbeda.. itulah ilmu yang diturunkan Allah kepada pewaris Rasul saw selalu segar dan baru berdasar Quran dan selalu sesuai pada jamannya. Ambillah ilmu langsung dari para pewaris Rasulullah saw.
Wallahu a’lam bishawab, semoga Allah selalu limpahkan ilmu dan kebaikan kepada kita semua. Allahuma aamiin.
Next jangan lewatkan trilogi postingan Fadlil Sangaji :

  1. Curcol :: Mendalami Agama Islam For Beginner #eps1
  2. Pentingnya Sanad Ilmu Agama Bersumber dari Rasulullah saw

Comment here