Bismillahirrahmanirrahim

Somehow, beberapa luka yang ada pada tubuh kita terkadang dapat mengingatkan kejadian apa yang menimpa kita pada saat luka itu ditorehkan. Semisal luka tangan ini, sy dapat sehabis wudhu karena tergores kran air yang runcing berlokasi di Mina Mekah pada saat akan menunaikan solat isya 12 dzulhijah 1435H.
 

wpid-wp-1414419547483.jpg
Ajeeebb… :v

Maka bekas luka pada tangan ini akan mengingatkan selalu, sedang apa saya di Mina pada saat itu. Bermalam di Mina untuk melempar jamarah yang merupakan salah satu wajib haji.

:: Bermalam di Mina ::
Selama 4 hari 3 malam jamaah haji bermalam di mina, pada hari pertama tanggal 10 dzulhijah jamaah melempar jumrah aqobah tahalul kemudian lepas ihram, pada hari ke dua tanggal 11 dzulhijah jamaah melempar jumrah ula, wustha, aqobah, pada hari ketiga 12 dzulhijah kembali melempar jumrah ula, wustha, dan aqobah. Begitu setiap hari sampai hari ke empat 13 dzulhijah.
Selama 4 hari 3 malam merupakan wajib haji yang dilalui dalam rangkain ibadah haji. Selama 4 hari 3 malam itulah waktu yg diagendakan khusus hanya untuk melempar jamarah. Mengikuti dn mengenang peristiwa agung Nabi ibrahim as ketika akan menyembelih nabi Ismail as.
So what’s da point ?
Ketika luka kecil di tangan dapat mengingatkan satu peristiwa besar. Bagaimana dengan luka yang ditorehkan Allah di hati kita. Luka yg saya maksud adalah peristiwa yang sangat mengenang di hati. Tidak sepantasnya sy mengatakan luka di hati ketika kita mengikuti takdir Allah. Tapi pendekatan yg sy gunakan adalah luka di tangan. Salah satu torehan peristiwa yg membekas sedang apa saya saat itu dan untuk apa.
Kembali kepada luka atau peristiwa besar yang Allah torehkan ke dalam hati kita. Kita ambil satu contoh yaitu kematian. Ketika terdapat salah satu keluarga kandung atau kerabat paling dekat atau teman sahabat karib kita meninggal. Pada saat itu Allah sedang torehkan luka pada hati kita, Allah berikan pengingat satu peristiwa jika semua makhluk akan kembali kepada Rob nya. Torehan luka bahwa sanak kerabat yg kembali di ambil Allah pernah hidup di tengah2 kita.
Luka di tangan ini saya dapat ketika di Mina. Untuk apa saya di mina pada saat itu selama 4 hari 3 malam ? Yaitu untuk lempar jumrah utk napak tilas nabi Ibrahim as.
Maka ketika kita dapatkan torehan luka dikehidupan ini dengan luka kematian sanak kerabat. Apakah kemudian kita ingat apa tujuan kehidupan ini?

Kullu nafsin dzaa iqotul maut.
Setiap jiwa yang bernafas pasti akan merasakan kematian.

Maka kesombongan apa yang kita miliki dalam dunia ini jika kita sadar satu waktu nanti Allah akan mengambil kembali ruh yg dititipkan pd tubuh ini. Kesombongan apa yg kita miliki ketika kita tidak perna kuasa atas apapun di dunia ini kecuali atas ijin Allah. Bahkan ruh dari sanak kerabat kita pun kita tidak punya kuasa menjaganya.

Pada saat Allah mencabut ruh diri ini, sesungguhnya kembali Allah menorehkan luka pengingat peristiwa pada seluruh keluarga kita, pada sanak kerabat, pada teman2 kita.
Tapi kawan, kali ini penyebab torehan lukanya adalah kita.
Kitalah sumber penyebab pengingat peristiwa sakral itu.
Kematian.

Semoga sebelum masa itu tiba, kita selalu ingat apa tujuan kita hidup di dunia? Cukup kematian menjadikan pelajaran sunyi bagi hati kita masing masing.
Tribute to dek :
Muhammad Cahyoningrat.
Al faatihah..
Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Comment here