بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

doa-1
Dengan mengharap ridha Allah fadlil mau nulis tentang perihal judul diatas. Tulisan ini ane dapet kajiannya dari para ulama ataupun guru guru ngaji ane. Oqe,, bismillah..

Akhir akhir ini cukup marak beredar artikel ataupun kajian di internet yang diisi oleh sebagian ustad yang berpendapat bahwa tahlilan itu tidak ada dalil atau hukumnya. Begitu juga dengan perihal menyampaikan doa atau pahala bagi orang yang sudah meninggal beliau sampaikan pahala tersebut tidak sampai.
Nah, namun demikian, sebagian pendapat dari ulama yang saya datang dan duduk dalam satu tempat kemudian ikut mengaji bersama beliau yang ilmu ilmu ini jarang mencuat di dunia maya, memiliki pendapat atau pandangan sebaliknya. Bahwa pahala mendoakan atau sedekah atau menghajikan orang yang sudah meninggal insyaAllah pahalanya sampai. Siapa yang menyampaikan tidak lain adalah karena rahmad dan kasih sayang Allah.

Kalau pendapat ane sendiri, yang mungkin dapat kawan abaikan jika tidak sependapat, dosa dan pahala adalah hak Allah. Kemudian kita membatasi dan mengatur hak Allah dalam memberikan pahala sebagai wujud rahmad dan kasih sayang Nya dengan mengatakan sampai atau tidaknya pahala kepada sesama manusia ini sangatlah kurang ajar menurut saya.
Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. Al Mukmin ayat 60 :
almumin-60

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu… dst.

allah menurut sangkaan hambaKu kepada Ku
Hadits Qudsi : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu…

Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”.

Tapi kawan,, perihal diatas adalah pendapat saya,, mari kita ikuti pendapat para ulama yang bener bener tau masalah agama.

Kitab Adab asy-Syafi'i wa Manaqibuhu
Kitab Adab asy-Syafi’i wa Manaqibuhu

Dalam kitab :: Adab asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, karya al-Imam al-Jalil Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi cetakan “Darul Kutub al-‘Ilmiyyah”, Beirut – Libanon.
Pada halaman 63 hal 63
Kami fokuskan kalimatnya :

hal 63 b

Artinya :

Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan, (Aku) Abu Muhammad, telah menceritakan kepada kami bapakku, dia berkata: Telah mengkabarkan kepadaku Yunus, dia berkata:
Saya mendengar Imam Syafi’i dan beliau menghadiri orang meninggal (mayit). Kemudian, ketika beliau membuka pakaian yang menjadi tutup di wajah si mayit, beliau memandang wajahnya lalu mendo’akannya: Ya, Allah! Dengan kekayaan-Mu darinya dan kefaqirannya untuk-Mu, maka ampunilah dia!

Jika Imam Syafi’i mengatakan tidak sampai pahala mendoakan kepada orang yang sudah meninggal, mengapa beliau mendoakan jenazah? Hukum yang menjadi dasar dari imam Syafi’i adalah Quran surat An Najm ayat 39 :
a039

“Dan bahwasanya seorang manusia itu tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. (Q.S. An-Najm {53}: 39).

Mari kita lihat pandangan ulama lain dalam menafsirkan ayat diatas.
Ayat tersebut sudah dinasakh (dihapus) oleh Q.S. Ath-Thur ayat 21 yang berbunyi:

Q.S. Ath-Thur 21

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Pandangan ulama lain sebagai berikut :

  1. Pendapat Ikrimah
    Ayat tersebut dikhususkan bagi kaum Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Bagi umat Nabi Muhammad akan memperoleh apa yang diusahakannya dan yang diusahakan orang lain untuknya.
  2. Pendapat Rabi’ bin Anas
    Yang dimaksud “Seorang manusia” adalah orang kafir. Bagi orang mukmin adalah apa yang diusahakan oleh dirinya dan yang diusahakan orang lain untuknya.
  3. Pendapat Al-Husain bin Al-Fadhal
    Seseorang tidak akan memproleh apapun selain yang diusahakannya melalui jalan yang telah ditetapkan kecuali yang diperoleh dari jalan keutamaan. Oleh karena itu, boleh jadi Allah akan menambahkan baginya pahala sesuai dengan kehendak-Nya.

Jadi apakah kemudian kita sebutkan jika imam Syafi’i tidak konsisten dengan pendapat beliau sendiri? *jangan sampai berpikir begitu,, kita yang awam ini harus punya etika terhadap ulama. Terlalu berani jika kita berpikiran jika imam Syafi’i plin plan. Inilah khilaf ulama..
Jadi bagaimana lanjutannya..
imam nawawiAlhamdulillah saya mendapatkan 100 lebih slide presentasi yang berisi kajian kitab ulama terdahulu berkaitan dengan hukum hukum yang sangat sering disebutkan sebagai amalan bidah atau mengada ada. Contoh kasus biasa macam tahlilan, solawatan, zikir dengan suara keras, membaca quran di makam, yasinan, tabaruk, tawasul dan masih banyak lagi.
Slide kajian ini saya dapatkan dari yai Thobary Syadzily al Bantani, yang merupakan cucu cicit Imam Nawawi Al Bantani seorang ulama besar dari Indonesia pada tahun 1800 an. Silahkan kawan cari sendiri referensi mengenai Imam Nawawi. Dan penting untuk kawan ketahui silakan dicari nasab keilmuan Imam Nawawi.
Kembali menurut saya, permasalahan yang sering disebutkan sebagai bid’ah, amalan yang sia sia, mengada ada, tidak ada pada jaman Rasulullah saw, dan para sahabat terdahulu pasti sudah melakukan terlebih dahulu jika amalan tersebut baik yang kemudian lebih terkenal dengan istilah bid’ah tersebut telah banyak dibahas oleh para ulama terdahulu, tergantung kita menggalinya permasalahan ini mampu sedalam apa. Semoga Allah berkenan menyampaikan ilmu ilmu tersebut sampai kepada pemahaman kita.

Ulama dahulu jika berselisih mereka sangat menghormati dan menyayangi, seperti disebutkan dalam satu kisah Imam Syafi’i yang merupakan murid dari Imam Malik pernah menyatakan saya berselisih pendapat dengan imam Malik sebanyak 30 ribu hal. Tapi kasih sayang antara keduanya tidak luntur karena selisih pendapat itu.
Jadi kawan, jangan matikan hati kita dan merasa paling benar berpikir pendapat ulama lain adalah salah. Saya benar, engkau salah. Rasakan saja apakah ada kesombongan dalam perihal tersebut. Mari kita ingat, apa yang menyebabkan Iblis di laknat oleh Allah adalah karena kesombongan.
Hal hal tersebut adalah khilaf ulama, selisih pendapat antar ulama atau sering disebut permasalahan khilafiyah. Dalam hal tersebut kembali kepada kita masing masing ingin mengikuti pendapat ulama yang mana.
Jangan kemudian kita saling menyalahkan karena hanya mengikuti satu pemahaman kemudian merasa paling benar. Apa jadinyaa, kita sudah membatasi diri dalam memahami agama.. ( susah diungkapkan dgn kata2 )

Pintu rahmad dan kasih sayang Allah بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ sangatlah luas. Mengapat kita batasi rahmad Allah tersebut dengan pemikiran kita yang sangat terbatas ini..
Semoga Allah selalu menuangkan rahmad dan hidayahNya kepada kita semua amin.

والله أعلمُ بالـصـواب

ps :
Ngaji atau belajar ilmu agama sebaiknya hadir langsung face to face kepada seorang guru, ngaji lewat dunia maya dalam bentuk tulisan bisa salah pengertian salah penafsiran. seperti baca quran, membaca tanpa didampingi guru / orang yg bisa membaca al Quran maka lafadznya bisa salah. Contoh bagaimana beda lafadz membaca ث = tsa dan س sin, ح = ha dan هـ = hha dan seterusnya.. u now wat i mean kan ya..
Di internet berbagai macam ilmu bisa ditemukan. Ngaji lewat internet akan sangat berbahaya tanpa pendampingan seorang ulama atau guru. Jadi hadir langsung dalam majelis, insyaAllah lebih berkah.. Keberkahan akan turun langsung dari seorang guru kepada murid, begitu juga keberkahan ketika kita hadir dalam majelis zikir.
Next posting insyaAllah :: Bagaimana mendapatkan guru, kajian oleh Bib Noval Alaydrus – Solo.. insyaAllah.

  1. waaah bagus mas Aji..
    ps:
    ngaji di internet lebih baik dari pada tidak ngaji mas aji.. hehehehe.. beda kan yah membaca quran yg ada lafal2nya dengan membaca artikel, bisa saja yg dibaca di internet itu dari kitabnya imam nawawi?
    saya ngeji di internet, ceramah juga lewat internet (misal ceramah di ustad khalidbasalamah.com ), apa lagi buat orang yang ditempat dia tinggal misal di jepang atau daerah yang mayoritas nonmuslim dan tidak ditemui pengajian. hehehe

    • Ini kayak makan buah yg ada pestisidanya.. hehe.. dilanjutkan nda makannya..
      Info.. Mas antok tau kah jika banyak kitab terjemahan sudah di tahrif dan di tahqiq ( dimodifikasi dari aslinya baik ditambahkan / dikurangi tulisannya dan juga di berikan footnote yg tidak sesuai maksud pengarangnya )
      Jadi maksud saya tetep kita harus hati hati kalau mau belajar agama hanya lewat internet. Kita tidak tahu pasti siapa dibalik layar dari tulisan yg kita baca.
      Allahuma sholi ‘ala wa maulana wa habibina sayyidina muhammad saw… semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita dengan kasih sayang Nya yg diwujudkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Amin.

Comment here