بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Postingan berikut nda pake dasar ilmu santri apalagi ustad,, cuman kajian literatur doang – bersumber dari artikel satu dengan yang lain – mau baca lanjut silakan, berhenti disini trus ngopi2 jugak silakan… :v :v
Topik postingan kali ini hanya sebatas bahas kata “SEMUA” dalam sebuah hadits shohih yang menjadi dasar anti bidengah,, bib Noval Al Aydrus dalam satu kajian bertanya: “Apakah benar kata SEMUA dalam hadits tersebut benar benar bermakna SEMUA // All // sakabeh-kabeh-ane ?? // Semua tanpa terkecuali ?? *doeng doeng doeng.. durumdumdum.. plaakk..

bidengah ke arah mana eaakkk..
bidengah ke arah mana eaakkk..

Dan postingan berikut saya batasi belum membawa penjelasan dari bib Noval, hanya bener bener dari literatur secara orang awam, macam makhluk macam saya ini.

Dalam sebuah artikel di sebuah web tercantum hadits berikut :: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai khutbah beliau senantiasa mengatakan:

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ… (رواه النسائي يرقم 1560, وابن ماجه في مقدمة السنن برقم)

“Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, maka tak seorang pun bisa menyesatkannya; dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tak seorang pun yang bisa memberinya hidayah. Sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama) ialah bid’ah, sedang setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka…” (H.R. An Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah, dan dishahihkan oleh Al Albani, lihat Irwa’ul Ghalil 3/73)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari jalur yang sama, yaitu Ja’far bin Muhammad (Ash Shadiq) dari ayahnya (Muhammad bin ‘Ali Al Baqir), dari sahabat Jabir bin Abdillah, dengan lafazh:

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat”
sumber dimari.

Dan masih banyak lagi hadits2 berkaitan dengan semua bidah adalah sesat.
Oqe oqe sampai disini kita cukupkan artikel diatas menggiring pemikiran kita semua yang menyatakan jika SELURUH BIDAH ITU SESAT sodara sodara.. noted ya.. SELURUHNYA SESAT *read : tekstual only*
Sedangkan pada pada artikel lainnya, masih dalam pembahasan yang sama yaitu pengertian bidengah, sama sama menyebutkan SEGALA SESUATU atau SEMUA atau SETIAP SESUATU yang tidak ada pada jaman Rasul atau sesuai tuntunan rasul disebutkan sebagai berikut ::

Sehingga masih muncul pernyataan/pertanyaan “karena tidak ada di zaman Rosulullah, berarti hp, tv, kulkas, motor, pesawat, mushaf Al Quran, mobil, vespa, kereta api, facebook, twitter juga bid’ah” dan pertanyaan/pernyataan semacam dengan itu.” Sumber
Karena, mobil bukan dalam perkara dien, mobil hanya alat. Sumber
Dalam artikel tersebut tertuliskan : “Padahal sebenarnya hal-hal tadi (pen :: hal yg disebut diatas) bukanlah bid’ah yang tercela dalam Islam karena bid’ah yang tercela adalah bid’ah dalam masalah agama. ***Begitu juga ada yang tidak setuju dengan nasehat bid’ah, ia menyampaikan bahwa para sahabat dahulu mengumpulkan Al Qur’an dan di masa ‘Umar dihidupkan shalat tarawih secara berjama’ah. Syubhat-syubhat yang muncul ini karena tidak memahami hakekat bid’ah.”

( Mulai yang saya tandai *** agaknya sulit mereka menyatakan antonym dari tercela adalah baik – semacam nda mau mengakui dengan bidengah hasanah ) akibatnya kalimatnya malah jadi puyeng sendiri gitu.
Klik saja deh ni sumber, isinya dalilnya setiap bidah adalah sesat muluk.. padahal sudah dibantah sendiri diatasnya.
Dari dua artikel diatas maka secara polos dan spontan saja,,, makna kata “SETIAP” makna kata “SEMUA” makna kata “SELURUH” berkaitan pada hadits diatas sudah runtuh sudah gogrok sudah goyah dibantah sendiri oleh artikel yang lain.

SEMUA tidak berarti SEMUA lagi sodara sodara.. Karena makna SEMUA / SETIAP pada kalimat
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Setiap bid’ah adalah sesat
Sudah memiliki pembatasan arti dan tidak mengandung lagi makna SEMUA // ALL // KABEH // Semua tanpa terkecuali. Beralih menjadi makna semua dengan pembatasan tertentu.

~ :: ~

Sekarang pertanyaannya, arti pembatasan SEMUA ini mau dibawa kemana atau ke arah mana pemahaman barunya kata SEMUA.. hayooh.. hayooh.. *mulailah curiga * mulailah terbuka *atau malah pura2 nda peduli *atau malah pura pikun.. hayoh…
Dalam artikel diatas kata SEMUA dialihkan hanya sebatas permasalahan agama. Pertanyaannya para ulama yang saya temui adalah dasarnya apa mengkhususkan kata semua kedalam permasalahan agama saja? Mana hadits atau penjelasan yang mengkhususkan kata SEMUA adalah SEMUA DALAM HAL AGAMA dan kemudian memisahkan kata SEMUA dalam perihal dunia… laalaallalaa…
Saya sampaikan literatur lain diambil dari buku Syarh al-‘Aqidah al Wasithiyyah, hal. 639-640 pengarang Al-‘Utsaimin ::

“Hukum asal perbuatan baru dalam urusan urusan dunia adalah halal. Jadi bid’ah dalam urusan urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil meunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan baru dalam urusan urusan agama adalah dilarang. Jadi, berbuat bid’ah dalam urusan urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al Kitab dan Sunnah yang menunjukkan keberlakuannya.”

Cantik ya pernyataan diatas..

Pertanyaan saya adalah naik pesawat menuju mekkah itu bagaimana hukumnya ya?
Pertanyaan saya berikutnya naik bis ketika dari mekah menuju padang arafah itu bagaimana hukumnya?
Bagaimana hukumnya adzan dengan pengeras suara?
— mungkin jawabnya :: ya akhi,, naik kendaraan itu bukan rukun haji yah, toh dulu pada naik kapal sama unta —
yassalam,, bolehkah saya skak sekarang kata “SEMUA” bukan lagi semua tanpa terkecuali dengan argumen ini..

Dan pertanyaan yang banyak lagi mengenai campuran SEMUA hal yang tidak ada tuntunannya pada jaman Rasulullah saw digunakan sebagai bagian dari ritual agama. Yaa akhi,, SEMUA tak lagi SEMUA yaa akhi, sudah berubah.
Selesai sampai disini saja yang ingin saya utarakan karena cuma mau bahas satu kata itu.. “SEMUA yang nda SEMUA”.
Yassalam,, terserah antum dalam memandang permasalahan mudah yang selalu di blow up setiap hari ini menjadikan saya sungguh capek membaca dan berkomentar terhadap kullu atau SETIAP bidah adalah SESAT.
Tobatlah ya akhi fadlil.. dosamu buanyaakk.. T_T
*correct me if I’m wrong..

Comment here