Security staff check passengers  at Heathrow.  Picture David Parkerبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِي
Agak lucu inspirasi kali ini.. Postingan ini saya awali dari dalam ruang meeting di head office sebuah pabrik di daerah Jawa Timur antara Surabaya – Malang dan saya akhiri di Jakarta hehe..
Setiap pagi, ketika masuk ke area pabrik saya melewati pintu gerbang utama. Tidak setiap orang diijinkan untuk masuk jika memang bukan karyawan pabrik tersebut atau tamu dengan kepentingan tertentu. Jika saya sebagai orang awam satpam akan langsung menghentikan kemudian ditanya keperluan ini itu, keperluan sudah jelas masih harus meninggalkan ID card, mengisi buku tamu, dapat surat keterangan sebagai tamu, id card tamu daaaannn ba bi bu tralala trilili..
Masuk ke office, tidak bisa asal masuk. Ada resepsionis, tanyakan lagi keperluannya ini itu dan dipersilahkan menunggu. Tempatnya tunggu khusus untuk tamu sesuai stratanya, mungkin ruang tamu kelas ekonomi, bisnis atau eksekutif VIP. Nunggunya juga sesuai derajat ketamuan kita, jika kita sebagai orang penting ya cepet, kalo kita sebagai rakyat jelata ya sabar sampe lumutan.
vip2Masuk ke area produksi, ketemu sekuriti lagi. Ngisi buku tamu, tujuannya ngapain, ketemu siapa, pake periksa fisik, bawa barang begini begitu atau tidak, mau bertamu berapa lama,, daann seterusnya.. Cerita diatas saya samakan dengan tahap tahap ujian, jika tidak lolos satu bagian ya wassalam, kita tidak berhasil masuk.
Ada satu celah dimana saya berpikir, jika kita adalah salah satu keluarga atau saudara atau kerabat dari pembesar di pabrik itu. Maka langsung berasa istimewa, tanpa perlu ditanya ini dan itu langsung bisa masuk, ruang tamu juga spesial, jamuan juga mungkin spesial. Ngerti maksud saya ya.. Jika kita ada hubungan saudara dengan pembesar, maka kecipratan kemuliannya.
Satu waktu pernah berjalan dengan pa Bos di pabrik, biasanya ada body searching oleh sekuriti. Tapi karena saya bareng pa bos yang tinggal dadah saja *menandakan woles bro… maka kebiasaan pemeriksaan keamanan itu tidak dilakukan.
Apakah bisa kita samakan cerita diatas dengan dengan tata cara masuk surga? Di alam barzah ditanya oleh malaikat, siapa tuhan mu? siapa nabi mu? apa kitabmu dst..
Sehabis kubur, di padang masyhar masih ditimbang amal perbuatan. Dimana hari perhitungan, semua amalan ditanya, semua perbuatan dipertanggungjawabkan.

“Hai kamu sebagai suami, kamu bertanggungjawab dengan istri dan anak anak mu sudah berbuat apa saja kamu untuk memimpin mereka menuju rahmad Allah?”
“Hai kamu orang kaya, untuk apa saja harta harta mu, sadar nda itu titipan dan bukan milikmu. Jika ada orang meminta sedekah dari kamu, sudah kamu kasih belum?”
“Hai kamu ahli ilmu, kamu manfaatkan untuk apa ilmu yang kamu miliki saat hidup..?” daaaann sebagainya…

Semoga Allah selalu mengukuhkan kita dalam kasih sayangNya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan penghakiman.
Dari sekian analogi diatas, saya teringat dengan hadits berikut :

Suatu ketika bersama Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam sahabat-sahabatnya yang mulia. Dibarisi sahabat paling setia Abu Bakar as-Siddiq. Terkeluar dari mulut baginda yang sangat mulia. “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku),” kata baginda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam.
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah.
“Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersuara,
“Ikhwanku ( saudaraku ) adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadis Muslim)

Beranalogi dari kegiatan pabrik sampai dengan urusan akhirat, silahkan disambungkan sendiri ya…Semoga dapat memahami maksud saya dalam rangka bertawasul atau perantara sampainya ridha Allah kepada kita insyaAllah salah satunya adalah karena melalui kecintaan kita terhadap satu makhluk ciptaan Allah yang Allah sangat cintai, Kajeng Nabi Muhammad saw.
Ada hadits menarik lainnya.. Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:

Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.
(Hadits Shahih Muslim : 2639-161)

Hayuk mari kita review kembali bagaimana kecintaan kita.
Sebagai makhluk,,, kecintaan utama haruslah kepada pencipta,,
*insyaAllah nantikan inspirasi cinta abtrak kepada Allah dan cinta eksak kepada Nabi saw.

Quotes : “Jika aku cinta kepada Tuhan ku, maka aku akan cinta kepada istriku, kepada anak anak ku, kepada orang tua ku, kepada orang tua mu, kepada sesama manusia, kepada setiap makhluk, karena Tuhanku mengajarkan cinta kasih.”

Bentuk kecintaan kepada Allah tidak akan didapatkan kecuali melalui hidayah dari Allah ===>> dan jalan menuju pintu hidayah Allah diterangkan dalam Quran dan Hadits ===> sedangkan yang paling tahu tentang Quran tidak lain adalah Baginda Nabi Muhmmad saw sedangkan kita sudah tidak tinggal dalam masa beliau karena itu  ===> langkah untuk memahami Quran dan Hadits adalah berguru kepada para ahli waris Beliau saw, yang tiada lain adalah para ahli dzikir atau Ulama jadiiiii ===> Yok, mari mendekat kepada para ahli waris kanjeng Nabi saw, agar kecipratan warisannya kanjeng Nabi Muhammad saw yang tidak lain adalah ilmu pengetahuan untuk menggapai ridha Allah.
Sholu ‘ala nabiy…. ^_^

  1. aku tahu yang dimaksud pabrik apa disini…………..hehehe

Comment here